Kabar Baru
MKKS SMP Swasta Banyuwangi Ucapkan Selamat kepada Dr. H. Alfian sebagai Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
IPAL Andre Raja Nusantara Hadir Berikan Solusi Modern Sistem Pengolahan Air Limbah
Tingkatkan Pelayanan di IKN, Kapolri Resmikan Asrama Polisi dan Sarpras Polda Kaltim di Samarinda
Hadiri Kapolri Cup 2026, Kepala BNN RI: Prestasi Gemilang Lahir dari Gaya Hidup Sehat Tanpa Narkoba 
Kapolri Buka Kejuaraan Judo Kapolri Cup 2026 di Kaltim: Ajang Prestasi, Soliditas, dan Sportivitas
Sidang Praperadilan Dana Tripanca Rp106 Miliar Digelar, Hakim Wajibkan 17 Termohon Hadir
MKKS SMP Swasta Banyuwangi Ucapkan Selamat kepada Dr. H. Alfian sebagai Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
IPAL Andre Raja Nusantara Hadir Berikan Solusi Modern Sistem Pengolahan Air Limbah
Tingkatkan Pelayanan di IKN, Kapolri Resmikan Asrama Polisi dan Sarpras Polda Kaltim di Samarinda
Hadiri Kapolri Cup 2026, Kepala BNN RI: Prestasi Gemilang Lahir dari Gaya Hidup Sehat Tanpa Narkoba 
Kapolri Buka Kejuaraan Judo Kapolri Cup 2026 di Kaltim: Ajang Prestasi, Soliditas, dan Sportivitas
Sidang Praperadilan Dana Tripanca Rp106 Miliar Digelar, Hakim Wajibkan 17 Termohon Hadir
Memuat cuaca...
Opini

Di Kepala yang Berudeng, Agama Menemukan Jalan Tengah

Di Kepala yang Berudeng, Agama Menemukan Jalan Tengah
Oleh: Syafaat

Rabu pagi, pesan itu datang seperti kabar biasa. Tidak ada yang tergesa, tidak pula menggelegar. Hanya sebuah kiriman di grup agenda tahunan Jawa Pos Radar Banyuwangi. Tentang penganugerahan. Tentang mereka yang dianggap berjasa. Tentang nama-nama yang dicatat agar tidak lekas dilupakan oleh waktu. Namun di balik daftar dan seremoni itu, ada satu kata yang kerap kita dengar, sering dipajang di baliho dan laporan kinerja, tetapi jarang benar-benar kita rasakan maknanya: moderasi beragama. Ia bukan sekadar program atau jargon administratif, melainkan ikhtiar batin untuk menjaga agar iman tidak kehilangan kelembutan, agar keyakinan tidak berubah menjadi alat saling meniadakan, dan agar perbedaan tetap tinggal sebagai rahmat yang menguatkan persatuan. Jumlah penerima penganugerahan itu tiga puluh lima, ditambah satu. Yang satu disebut istimewa: Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia. Mereka semua layak dihormati. Tetapi daftar panjang sering kali membuat kita lupa pada satu hal kecil yang justru penting: wajah manusia di balik nama. Karena itu saya memilih satu nama. Satu sosok. Satu sikap hidup yang bekerja tanpa gaduh. Dr. Chaironi Hidayat. Ia adalah Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Jabatan yang dalam bayangan banyak orang identik dengan meja kerja, surat dinas, dan regulasi. Namun pada dirinya, jabatan itu tidak berdiri sendiri. Ia berjalan seiring dengan keyakinan bahwa agama tidak pernah hadir untuk menghapus kebudayaan, melainkan untuk merawatnya agar tetap berakar dan beradab. Yang menggetarkan adalah kenyataan sederhana ini: ia bukan orang Banyuwangi. Darahnya tidak berasal dari tanah Osing. Tetapi cintanya tumbuh di sini. Dan cinta, seperti iman, tidak memerlukan silsilah. Ia hanya menuntut kesetiaan. Udeng Osing yang hampir selalu ia kenakan bukan sekadar simbol etnografis. Ia adalah pernyataan moral. Sebuah syahadat kultural. Bahwa keberpihakan kepada nilai lokal adalah bagian dari tanggung jawab spiritual, terutama di zaman yang gemar menyeragamkan wajah dan selera. Dalam khazanah agama, kita mengenal amanah. Sebuah tanggung jawab yang tidak hanya diselesaikan, tetapi dijaga dengan rasa takut kepada Tuhan. Chaironi membaca amanah itu melampaui administrasi. Ia melihatnya sebagai kewajiban merawat kebudayaan, sebab ia paham: agama tanpa budaya akan menjadi kering, dan budaya tanpa nilai akan kehilangan arah. Maka seni dan tradisi tidak ia tempatkan sebagai pelengkap seremoni. Ia mendorongnya menjadi napas keberagamaan. Menjadi cara beriman yang ramah. Menjadi praktik moderasi beragama yang tidak menggurui, tetapi menghadirkan keteladanan. Ia menulis. Ia bersastra. Dan sastra, dalam pengertian paling sunyi, adalah ibadah. Sebab menulis berarti memberi waktu bagi empati, menunda vonis, dan mengakui bahwa manusia selalu lebih luas daripada kategori-kategori resmi. Banyuwangi beruntung. Bukan semata karena memiliki seorang kepala kantor, melainkan karena dipertemukan dengan seorang penjaga makna. Seorang yang memahami bahwa merawat budaya lokal adalah bagian dari ibadah sosial. Dan barangkali, di situlah kepemimpinan menemukan bentuknya yang paling manusiawi: menjadi tamu yang tahu diri, menjadi pendatang yang setia, menjadi pejabat yang tidak kehilangan rasa, dan menjadi manusia yang tetap mengingat Tuhan melalui budaya.

!Redaksi)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!