MAKI Jatim Bagi 1000 Paket Ta'jil di Jalan Raya Achmad Yani Surabaya
Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Jawa Timur turun langsung membagikan 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat pada Jumat (20/2/2026). Rinciannya sederhana namun penuh makna: 250 paket donat dan tiga macam gorengan, 250 paket kurma, 250 mangkuk kolak gula merah bersantan lengkap dengan ubi, pohong, dan pisang, serta 250 paket jajanan tradisional. Namun Ramadhan tidak pernah berhenti pada angka dan jumlah.
Ia adalah madrasah ruhani. Ia adalah perjalanan sunyi menuju makrifat—mengenal Allah bukan hanya dalam lafaz, tetapi dalam kesadaran terdalam bahwa setiap rezeki adalah titipan, setiap harta adalah amanah, dan setiap detik kehidupan adalah kesempatan untuk kembali.
Dalam laku tasawuf, memberi bukan sekadar aktivitas sosial. Ia adalah latihan melepaskan diri dari belenggu dunia. Ketika tangan terbuka untuk berbagi, saat itu pula hati sedang dilatih untuk tidak terikat pada kepemilikan. Setiap butir kurma yang dibagikan adalah saksi bahwa jiwa sedang belajar ikhlas. Setiap mangkuk kolak yang berpindah tangan adalah cahaya kecil yang dinyalakan dalam batin.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda tahunan sebagai wujud syukur dan penghayatan nilai-nilai Ramadhan.
“Ramadhan mengajarkan kita kembali kepada fitrah. Berbagi adalah jalan menyucikan hati. Saat kita memberi, kita sedang membersihkan diri dari sifat tamak dan cinta berlebihan kepada dunia,” ujarnya.
Sebagai lembaga yang selama ini dikenal konsisten menyuarakan integritas dan keadilan, MAKI memaknai Ramadhan bukan hanya sebagai momentum ibadah personal, tetapi juga pembenahan moral kolektif. Sebab korupsi, sejatinya, bukan sekadar pelanggaran hukum. Ia adalah penyakit hati—lahir dari jiwa yang kehilangan rasa cukup dan lupa bahwa Allah Maha Melihat.
Muraqabah kesadaran bahwa setiap gerak diawasi Sang Pencipta adalah benteng utama dari kezaliman. Tanpa itu, hukum bisa diakali. Tanpa itu, kekuasaan mudah tergelincir. Namun dengan hati yang hidup, manusia akan takut berkhianat meski tak ada yang melihat.
Sore itu, para pengendara yang menerima ta’jil mungkin hanya melihat sebungkus makanan untuk berbuka. Tetapi sesungguhnya mereka membawa pulang lebih dari itu: pesan tentang kepedulian, tentang cinta Ilahi yang menjelma dalam tindakan sederhana.
Di detik-detik menjelang azan Maghrib, langit Surabaya meredup perlahan. Wajah-wajah lelah berubah menjadi senyum syukur. Dalam kesahajaan itulah Ramadhan memperlihatkan hakikatnya menyatukan manusia dalam lapar yang sama, dalam doa yang sama, dalam harapan yang sama.
Karena pada akhirnya, yang sampai kepada Allah bukan banyaknya paket yang dibagikan, melainkan ketulusan niat yang bergetar di dalam dada.
Ramadhan adalah jalan pulang. Dan setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas adalah satu langkah kecil menuju cahaya-Nya. (Bagas)
Bagikan:
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!