Merawat Harmoni dalam Idul Fitri
Oleh Syafaat
Kita tidak harus menjadi Gandhari untuk disebut setia, sebab kesetiaan tidak selalu berarti menutup mata ketika kita menghormati tuna netra. Dalam kisah agung Mahabharata, Gandhari memilih mengikat matanya sepanjang hidup sebagai bentuk cinta kepada suaminya, Raja Dhritarashtra. Sebuah pengorbanan yang kerap dimaknai sebagai puncak kesetiaan. Namun kehidupan hari ini memberi kita cermin lain: cinta tidak selalu harus meniru takdir orang lain, dan kesetiaan tidak harus menghapus cahaya yang telah Tuhan titipkan dalam diri. Sebab hidup bersama tidak pernah meminta kita menjadi serupa.
Ada yang melihat dengan mata, ada yang melihat dengan hati. Ada yang menapaki jalan iman yang diwariskan sejak lahir, ada pula yang menemukannya melalui pencarian panjang. Maka memaksa yang tidak melihat untuk melihat adalah kezaliman, dan memaksa yang melihat untuk menutup mata bisa jadi merupakan pengingkaran atas nikmat. Yang kita butuhkan bukanlah keseragaman, melainkan kesadaran, bahwa perbedaan adalah hukum alam, Ia hadir seperti siang dan malam yang saling melengkapi, bukan saling meniadakan. Ia seperti laut dan daratan yang tidak pernah bertengkar tentang batas, tetapi justru menjaga keseimbangan semesta. Dalam perbedaan itulah harmoni menemukan napasnya. Namun di zaman yang serba gaduh ini, kesadaran itu sering tertutup oleh riuhnya suara.
Kita hidup di tengah dunia yang mudah sekali menghakimi, di ruang-ruang digital, seolah lahir hakim-hakim tanpa jubah. Orang-orang yang merasa paling benar, paling tahu, paling berhak menilai. Seakan-akan pepatah baru sedang ditulis: “Maha Benar Netizen dengan Segala Komentarnya.” Sebuah ironi yang terasa getir, karena kebenaran sering kali dikalahkan oleh siapa yang paling lantang. Di sisi lain, keadilan pun kerap menunggu panggungnya sendiri. Kita mengenal ungkapan getir: “no viral, no justice.” Sebuah kritik yang lahir dari kegelisahan, bahwa keadilan seolah membutuhkan sorotan untuk bergerak. Bahwa kebenaran harus lebih dulu ramai agar bisa didengar. Di tengah situasi seperti itu, manusia mudah sekali terseret arus, menghakimi sebelum memahami, menyimpulkan sebelum merenung. Padahal Ramadan datang justru untuk meredam semua itu.
Ramadan adalah madrasah sunyi, tempat manusia diajak kembali ke dalam dirinya sendiri. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan lidah dari menyakiti, menahan hati dari merasa paling benar, menahan pikiran dari tergesa-gesa menghakimi. Di dalam lapar, kita belajar sabar. Di dalam dahaga, kita belajar empati. Di dalam diam, kita belajar memahami. pelajaran Ramadan tidak hanya milik mereka yang berpuasa. Bagi yang tidak menjalankannya, tetap ada jalan kemuliaan yang terbuka lebar: menghormati. Tidak perlu ikut lapar untuk memahami makna lapar. Tidak perlu ikut menahan haus untuk mengerti arti kesabaran. Cukup dengan menjaga sikap, tidak mempertontonkan makan di hadapan yang berpuasa, tidak melukai dengan hal-hal yang sebenarnya bisa ditahan. Dan di situlah akhlak menemukan wajahnya yang paling lembut. Sebab menghormati bukan sekadar tindakan lahir, tetapi getaran batin. Ia tidak selalu tampak, tetapi selalu terasa. Ia tidak selalu diucapkan, tetapi selalu hadir dalam keheningan sikap.
Betapa indahnya ketika perbedaan tidak melahirkan jarak, tetapi menghadirkan kedekatan. Bayangkan sebuah desa kecil, dengan satu lapangan sederhana. Hari ini lapangan itu dipenuhi ogoh-ogoh, diarak dalam semarak Tawur Agung Kesanga sebagai simbol pembersihan diri dan alam. Esoknya, lapangan yang sama bergema takbir, menyambut Idul Fitri dengan linangan haru. Tanahnya tidak berubah. Langitnya tetap sama. Yang berbeda hanyalah cara manusia berdoa. Tidak ada yang merasa terganggu. Tidak ada yang merasa tersingkir. Justru di sanalah kita melihat wajah kemanusiaan yang utuh, bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan anugerah. Kita bisa berbeda dalam cara menyembah, tetapi tetap satu dalam cara menghargai. Dan jika kita jujur pada diri sendiri, sebagian besar dari kita tidak pernah benar-benar memilih keyakinan sejak awal. Kita lahir di dalamnya. Kita tumbuh dengan doa-doa yang diwariskan orang tua. Kita mengikuti jejak yang telah lebih dulu digariskan.
Iman bukan alasan untuk merasa paling benar, tetapi jalan untuk menjadi lebih bijak, keyakinan bukan alat untuk memaksa, tetapi cahaya untuk menerangi diri sendiri. Sebab iman yang dipaksakan hanya akan melahirkan kepatuhan semu.
Sedangkan iman yang tumbuh dalam kesadaran akan melahirkan keikhlasan yang jernih. Di sinilah pentingnya menjaga batas. Ada ruang ibadah yang sakral, yang tidak bisa dicampur, karena setiap keyakinan memiliki kesuciannya sendiri. Namun ada pula ruang sosial yang luas, tempat kita bisa saling bertemu sebagai manusia, berbagi tawa, berbagi kerja, berbagi kehidupan. Kita bisa duduk bersama tanpa harus menyatukan doa. Kita bisa berjalan seiring tanpa harus mengubah keyakinan.
Bisa jadi, satu kendaraan yang hari ini digunakan untuk mengangkut perlengkapan ibadah satu agama, dan di hari lain digunakan untuk membantu perayaan agama yang berbeda. Tidak ada yang merasa ternodai. Tidak ada yang kehilangan iman. Karena yang dibagi adalah kemanusiaan, bukan keyakinan. Dan bukankah itu yang membuat negeri ini begitu indah? Kita hidup dalam banyak warna. Kita merayakan banyak hari besar. Kita menikmati keberagaman sebagai bagian dari kehidupan, bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai anugerah yang dititipkan Tuhan kepada sebuah bangsa yang dipilih untuk belajar tentang makna kebersamaan.
Menjelang Idul Fitri, pelajaran tentang perbedaan itu terasa semakin dalam, semakin hidup, seolah-olah Tuhan sendiri sedang memperlihatkan kepada kita sebuah lukisan besar bernama harmoni. Di satu sisi, umat Islam bersiap menyambut hari kemenangan, hari ketika jiwa kembali ke titik awalnya, fitrah yang jernih. Takbir dikumandangkan, pelukan saling dipertukarkan, maaf menjadi bahasa yang paling indah. Jalan-jalan dipenuhi langkah yang pulang, hati-hati dipenuhi rasa ingin kembali menjadi lebih baik. Namun di saat yang sama, saudara-saudara kita yang lain sedang menapaki jalan sunyi dalam Hari Raya Nyepi. Tidak ada suara, tidak ada perayaan yang tampak, tidak ada gemerlap yang dipamerkan. Dunia seakan diajak berhenti sejenak, bukan untuk kosong, tetapi untuk penuh dalam keheningan. Yang satu merayakan dengan gema, yang lain merayakan dengan diam. Yang satu mengumandangkan, yang lain menenggelamkan diri dalam sunyi. Namun keduanya sama-sama menuju Tuhan. Perbedaan cara merayakan tidak mengurangi kesucian makna, kebisingan dan keheningan sama-sama bisa menjadi jalan pulang, selama hati tetap tertuju kepada Yang Maha Esa.
Ada kalanya umat Islam sendiri merayakan Idul Fitri di hari yang berbeda. Perbedaan dalam menetapkan awal bulan, dalam membaca tanda-tanda langit, dalam memahami hisab dan rukyat. Namun perbedaan itu sejatinya bukan perpecahan, melainkan ruang bagi kerendahan hati, manusia, betapapun tekunnya mencari, tetap memiliki keterbatasan dalam memahami kehendak Tuhan. Dan ketika Idul Fitri dirayakan tidak pada hari yang sama, sesungguhnya kita sedang diajak belajar satu hal yang sederhana, bahwa persatuan tidak selalu berarti keseragaman waktu, tetapi kesatuan dalam niat dan tujuan.
Kita tetap saling mendoakan, meski berbeda hari. Kita tetap saling memaafkan, meski takbir tidak selalu serempak. Kita tetap bersaudara, meski langkah tidak selalu bersamaan. Di situlah letak keindahan yang sering luput kita sadari. Tuhan tidak menciptakan manusia untuk berjalan dalam satu garis lurus yang kaku, tetapi dalam jalan-jalan yang beragam, agar manusia belajar menemukan makna dalam perbedaan itu sendiri. Dan mungkin, di situlah inti dari Idul Fitri yang sesungguhnya.
Bukan hanya kembali kepada kesucian diri, tetapi juga kembali kepada keluasan hati. Hati yang mampu menerima perbedaan tanpa curiga. Hati yang mampu menghormati tanpa merasa lebih tinggi. Hati yang mampu mencintai tanpa harus menyeragamkan. Sebab pada akhirnya, kita semua sedang berjalan menuju tujuan yang sama, hanya dengan cara yang berbeda. Maka biarlah yang bertakbir merayakan dengan penuh syukur. Dan biarlah yang berhening menyelami sunyi dengan khusyuk. Kita tidak perlu saling mengganggu, tidak perlu saling mengoreksi dengan keras, apalagi saling meniadakan. Cukuplah kita saling menjaga, saling memahami, dan saling mendoakan dalam diam. Karena pada akhirnya, Idul Fitri bukan hanya tentang kemenangan atas diri sendiri, tetapi juga tentang kemampuan untuk hidup damai di tengah perbedaan, tanpa kehilangan iman, tanpa menyingkirkan yang lain, dan tanpa harus memadamkan cahaya yang telah Tuhan nyalakan dalam diri kita.
Penulis adalah ASN Kementerian Agama / Ketua Lentera Sastra Banyuwangi
(Red)
Bagikan:
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!